Oleh : Anonim
=============================
Langkat, METRO 86
Teknologi memang hebat. AI bisa bantu menjawab soal, menjelaskan konsep, bahkan membantu menyusun tulisan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan teknologi : membentuk jiwa manusia.
=============================
AI bisa memberi jawaban, tapi tidak bisa menjadi teladan. Internet bisa kasih tutorial, tapi tidak bisa mendidik dengan ketulusan. Mesin bisa menyelesaikan soal matematika, tapi buta soal kehidupan.
Di sinilah peran guru tidak tergantikan. Guru bukan cuma pengajar materi. Guru adalah penjaga hati. Seorang guru yang baik bukan sekadar membuat murid paham pelajaran, tapi membantu murid tumbuh sebagai manusia yang siap arungi kehidupan.
Dalam tradisi Islam, hubungan murid dan guru bahkan tidak pernah dipandang sebatas transfer ilmu. Ada adab, ada penghormatan, ada keberkahan yang lahir dari proses belajar itu.
Para ulama sejak dulu sangat menekankan bahwa adab mendahului ilmu.
Ada nasihat terkenal dari Abdullah ibn al-Mubarak, “Kami belajar adab tiga puluh tahun, lalu belajar ilmu dua puluh tahun.” Bayangkan, adab didahulukan sebelum ilmu. Karena berilmu tanpa adab bisa berbahaya.
Banyak orang cerdas, tapi culas. Banyak yang berprestasi, tapi tak punya hati. Banyak yang pintar bicara, tapi miskin akhlak. Ini bukti bahwa kepintaran saja tidak cukup.
Problem zaman ini bukan minim orang pintar, tapi minim orang berilmu yang beradab.
Maka di era AI ini justru kita lebih butuh guru. Karena teknologi memberi jawaban, tapi guru yang membimbing agar tak salah jalan. Teknologi memberi alat, tapi guru mengajari untuk agar tak tersesat. Teknologi membuat segalanya cepat, tapi pendidikan mengajari proses agar menjadi pribadi yang bermartabat.
# Ijazah Bisa Dicetak, Karakter Harus Ditempa.
( Rahmad )

0 Komentar